Keracunan MBG Kembali Terjadi: 231 Orang di Pati Jadi Korban, Total Nasional Tembus 50 Ribu
Pati – Kasus dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terulang. Kali ini, sebanyak 231 siswa dan guru dari tiga sekolah di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menjadi korban setelah menyantap menu MBG berupa nasi bakar dan telur ceplok pada Selasa (8/9/2026) .
Kronologi Kejadian di Pati
Insiden ini menimpa para pelajar di dua sekolah di Kecamatan Gembong, yakni MTs Negeri 3 Pati, MTs Mambaul Ulum, dan SMP Negeri 1 Gembong. Gejala seperti mual, muntah, diare, pusing, lemas, hingga sesak napas mulai dirasakan korban pada Selasa petang .
Pada Rabu pagi, sebagian korban dilarikan ke Puskesmas Gembong, RSUD RAA Soewondo, dan RS Mitra Bangsa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kepala Dinas Kesehatan Pati, Luky Pratugas Narimo, menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil observasi untuk menentukan apakah korban boleh pulang atau harus dirawat inap .
MBG tersebut disuplai oleh satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 1. Untuk memastikan penyebab pasti keracunan, Dinkes Pati telah mengambil sampel MBG serta sampel muntahan dan feses korban untuk diuji di laboratorium kesehatan provinsi di Semarang .
Kasus Serupa di Rembang
Di Kabupaten Rembang, kasus keracunan juga kembali terjadi di MTs Negeri 1 Lasem. Sekitar 40 orang mengeluhkan mulas dan diare sejak Selasa, dan lima orang dilarikan ke Puskesmas Lasem karena kondisinya memburuk .
Kepala Dinkes Rembang, Ali Syofii, menyatakan pihaknya belum bisa memastikan penyebab keracunan dan masih melakukan penyelidikan. "Jadi, kami belum menyimpulkan bahwa ini dampak langsung dari keracunan MBG. Masih kami telusuri, jangan dibuat keracunan massal, nanti salah mengambil kesimpulan," ujarnya .
Dalam sepekan terakhir, sudah ada tiga kasus keracunan pangan di Rembang:
Kamis (3/9): 777 orang di SMAN 1 Lasem, 11 orang dirawat inap
Selasa (8/9): 271 orang dari MAN 2 Rembang, 13 orang dirawat inap
Total Korban Nasional Tembus 50 Ribu
Data dari berbagai sumber menunjukkan skala masalah yang jauh lebih besar. Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, mengungkapkan bahwa berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan per 2 September 2026, total korban keracunan MBG telah mencapai 50.059 orang dengan 560 kejadian di 36 provinsi dan 245 kabupaten/kota .
Sementara itu, Amnesty International Indonesia mencatat jumlah korban keracunan MBG mencapai 43.838 orang, terdiri dari 28.103 korban pada 2025 dan 15.735 korban pada Januari hingga awal September 2026 .
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai program MBG tidak layak dan meminta pemerintah menghentikannya. "Selama tidak ada perombakan tata kelola, jawaban kami hanya satu, MBG harus dihentikan, SPPG dibubarkan," tegasnya .
Penyebab: Kontaminasi Bakteri dan Pelanggaran SOP
Hasil uji laboratorium di beberapa daerah mengungkap penyebab pasti keracunan. Di Tulungagung, sampel makanan dari SPPG Pakisrejo positif mengandung bakteri yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan .
Di Agam, Sumatera Barat, hasil pengujian BPOM menemukan bakteri Bacillus cereus pada tahu dan cabai yang dikonsumsi siswa. Bupati Agam, Benni Warlis, menyatakan dapur penyedia MBG di wilayahnya telah ditutup sementara selama satu bulan .
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengungkap salah satu pemicu utama keracunan adalah jeda waktu produksi dan distribusi yang terlalu lama. Di Sidoarjo, makanan dimasak sejak pukul 01.00 malam namun baru dibagikan sekitar pukul 12.00 siang—selisih hampir 11 jam, jauh melebihi standar maksimal 4 jam .
Desakan Evaluasi Total
Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, menilai masalah keracunan MBG bukan karena kelalaian teknis biasa, melainkan dampak dari tata kelola sistem dan kebijakan pengadaan yang bermasalah. Ia menyoroti kontrak yang mewajibkan setiap SPPG menyediakan makanan untuk 2.000 anak setiap hari. "Bayangkan setiap dapur tuh harus menyediakan makan setiap hari untuk 2.000 anak. Itu seperti orang pesta tiap hari, mantenan tiap hari, pasti gak bisa," ujarnya .
Wakil Ketua DPR RI, Saan Mustopa, meminta pemerintah menanggung seluruh biaya pengobatan korban keracunan MBG sampai pulih. "Karena kan pasti mereka yang keracunan itu kan berasal dari kalangan keluarga yang kurang mampu," ujarnya. Ia juga menyebut kasus ini sudah masuk level memprihatinkan karena ada korban yang mengalami dampak kesehatan kronis seperti kehilangan ingatan dan gagal ginjal .
Komisi IX DPR mendorong perubahan fundamental dalam tata kelola program MBG, termasuk mengusulkan sistem dapur berbasis sekolah untuk memperpendek rantai distribusi dan menekan risiko kontaminasi .
Kesimpulan: Program MBG yang digadang-gadang sebagai solusi masalah gizi nasional justru terus menuai korban. Dengan total korban yang telah menembus 50 ribu orang di 36 provinsi, desakan untuk menghentikan dan merombak total tata kelola program semakin kencang. Pemerintah kini berada di persimpangan antara mempertahankan program dengan perbaikan menyeluruh atau menghentikannya di tengah desakan publik yang semakin kuat.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/09/09/1071101f49da4bbb291d63845eef0fb3-WhatsApp_Image_2026_09_09_at_05.23.44.jpeg)
No comments:
Post a Comment