Tujuh Hari yang Tak Kunjung Menemukan: Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda Resmi Diperpanjang

 

Tujuh Hari yang Tak Kunjung Menemukan: Pencarian 5 Jurnalis di Selat Sunda Resmi Diperpanjang



Pandeglang – Pukul 18.46 WIB, Senin (14/9/2026). Posko SAR Gabungan di Carita, Pandeglang, Banten. Al Amrad, Kepala Kantor SAR Banten, berdiri di depan mikrofon. Wajahnya lelah. Suaranya berat. Di belakangnya, peta Selat Sunda terpampang dengan garis-garis sektor pencarian yang sudah disisir berkali-kali. "Hasil evaluasi operasi SAR hari ketujuh masih nihil," katanya. Lalu, setelah jeda yang terasa panjang: "Kita akan lanjutkan pencarian selama tiga hari ke depan." 

Angka tujuh adalah batas standar. Standar yang biasanya cukup untuk menemukan yang hidup, atau setidaknya, yang sudah tidak hidup. Tapi kali ini, tujuh hari berlalu tanpa jawaban. Delapan nama masih tercatat di papan putih. Lima jurnalis. Dua awak kapal. Satu pemandu. Kapal cepat Arupadhatu 1 yang mereka tumpangi sejak Senin (7/9) siang dari Dermaga Pagedongan, Carita, masih menghilang tanpa jejak. 

Yang Tertinggal di Permukaan

Selama tujuh hari, tim SAR menyisir lebih dari 2.600 mil laut persegi. Enam sektor, lalu tujuh. Lima belas kapal. Satu helikopter. Drone thermal. Semua dikerahkan. 

Yang ditemukan: sebuah jeriken. Satu helm. Dua jaket pelampung. Sebuah terpal. Dua botol galon.  Benda-benda yang mengapung di permukaan, dibawa arus, ditemukan di sekitar Pulau Sertung dan Pulau Rakata. Diserahkan ke kepolisian untuk identifikasi. Tapi tidak ada yang bisa memastikan: apakah ini milik mereka. Apakah ini jejak yang menuju jawaban. Atau hanya sampah yang kebetulan terapung di jalur yang sama.

Seorang nelayan Carita mengaku sempat melihat speedboat itu di perairan Gunung Anak Krakatau. Adik ipar sang kapten, Warta, yang melihatnya. Tapi penglihatan di tengah laut, di bawah kabut, di antara gelombang—bisa berarti apa saja. Bisa jadi harapan. Bisa jadi ilusi. 

Kabut yang Tak Kunjung Terangkat

Kendala terbesar bukanlah jarak. Bukan luasnya laut. Tapi kabut. Kabut tebal yang menyelimuti perairan Teluk Semangka hingga Selat Sunda sejak hari kelima. Jarak pandang terbatas. Helikopter yang seharusnya terbang, tertahan di landasan. Personel standby, tapi tidak bisa bergerak. 

"Heli terkendala oleh cuaca. Jadi personel tersebut tetap ada, tetapi standby posisinya," kata Danlanal Banten, Letkol Laut Wawan Subagyo Mardani. 

Di atas kertas, operasi berjalan. Di lapangan, operasi menunggu. Menunggu kabut terangkat. Menunggu gelombang mereda. Menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan datang.

Suara dari Keluarga

Di balik setiap operasi SAR, ada keluarga yang menunggu. Yang tidak tidur. Yang terus menatap ponsel, berharap ada panggilan. Berharap ada kabar.

Gubernur Banten, Andra Soni, bertemu langsung dengan mereka. Ia mendengar permintaan: sisir kembali Pulau Sebesi. Pulau yang ada penduduknya. Pulau yang mungkin, mungkin, menjadi tempat mereka terdampar. 

"Pihak keluarga menyampaikan harapan untuk disisir kembali Pulau Sebesi," kata Andra. 

Pemerintah Provinsi Banten menyediakan akomodasi terpusat. Tim medis disiagakan. Bukan untuk mengobati luka fisik, tapi untuk menjaga kewarasan di tengah ketidakpastian. 

Tiga Hari Lagi

Perpanjangan tiga hari ini bukan sekadar keputusan administratif. Ini adalah respons terhadap permintaan keluarga. Terhadap desakan pemerintah daerah. Terhadap kenyataan bahwa menyerah terlalu cepat bukanlah pilihan. 

Dalam tiga hari ke depan, tim SAR akan memetakan ulang area yang telah disisir. Mengintegrasikan pemodelan arus laut dan pergerakan angin dari BMKG dan PVMBG. Memperluas pencarian hingga ke Samudra Hindia, mengikuti pergeseran arus yang mengarah ke barat daya. 

"Kita maksimalkan dan kemudian kita berupaya untuk bisa menemukan saudara-saudara kita," kata Andra Soni. 

Delapan Nama

Di papan putih posko, delapan nama masih tertulis. M. Bagus Khoirunnas (ANTARA). Ari Basuki (Merdeka). Yudistiro Pranoto (iNews). Firdaus Wajidi (Anadolu). Donal Husni (freelance). Warta (kapten). Surakman (ABK). Heriyanto (pemandu). 

Mereka pergi untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Mereka tidak pernah kembali. Setidaknya, belum.

Selat Sunda masih menyimpan rahasianya. Dan tiga hari ke depan, kapal-kapal akan terus menyisir. Helikopter akan terus menunggu kabut terangkat. Keluarga akan terus menunggu kabar.

Karena di laut, selama masih ada tanda-tanda, selama masih ada harapan, pencarian tidak pernah benar-benar berakhir. Hanya berpindah dari satu gelombang ke gelombang berikutnya.


Informasi Terkini: Operasi SAR terhadap 5 jurnalis dan 3 awak kapal Arupadhatu 1 resmi diperpanjang 3 hari (hingga 17 September 2026). Area pencarian diperluas ke Samudra Hindia mengikuti pergeseran arus. Kendala utama: kabut tebal dan aktivitas vulkanik.

No comments:

Post a Comment