Malam Ketika Langit Khamis Mushait Menyala: Houthi Kirim Puluhan Rudal, 13 Warga Sipil Terluka
Khamis Mushait – Pukul 22.30 waktu setempat, Senin (14/9/2026). Seorang pria di Khamis Mushait sedang duduk di beranda rumahnya. Malam itu tenang, seperti malam-malam sebelumnya. Lalu, tiba-tiba, langit terbelah. "Ledakan itu sangat keras," katanya kepada AFP. "Api menyala lama sekali. Sejujurnya, kami sama sekali tidak bisa tidur malam itu."
Di sebelahnya, sirene Pertahanan Sipil Arab Saudi meraung-raung. Peringatan darurat dikirim ke ponsel-ponsel warga di enam kota: Jeddah, Yanbu, Taif, Abha, Jazan, dan Alula. Untuk pertama kalinya dalam sejarah konflik ini, Mekah—kota suci Islam—juga menerima peringatan ancaman serangan.
Puluhan Rudal, Satu Malam Panjang
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, muncul di televisi Al-Masirah. Dengan suara datar, ia mengumumkan apa yang baru saja terjadi: "Angkatan Bersenjata Yaman melancarkan operasi militer berskala besar yang menargetkan instalasi dan infrastruktur militer, termasuk hanggar jet tempur, sistem radar, landasan pacu, gudang amunisi, dan target lainnya di Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait."
Puluhan rudal balistik. Puluhan drone. Satu malam. Saree mengklaim serangan itu "presisi dan langsung," menyebabkan kerusakan signifikan.
Tapi koalisi pimpinan Arab Saudi punya versi lain. Juru bicara Turki al-Malki menyatakan pertahanan udara Saudi berhasil mencegat beberapa proyektil. Namun serpihan yang jatuh menghantam permukiman warga. Tiga belas warga sipil terluka—luka ringan hingga sedang. Tujuh rumah rusak. Dua kendaraan hancur.
"54 Serangan dalam 24 Jam"
Saree tidak hanya mengumumkan serangan. Ia juga membuka data: dalam 24 jam terakhir, jet tempur F-15 dan Typhoon Arab Saudi melancarkan 54 serangan udara di lima provinsi Yaman. Sehari sebelumnya, 58 serangan. Totalnya, lebih dari 300 serangan dalam lima hari terakhir.
"Serangan-serangan ini tidak akan dibiarkan tanpa jawaban," katanya.
Dan jawaban itu datang Senin malam. Bukan hanya ke Khamis Mushait. Houthi juga menargetkan Abha dan Taif. Koalisi Saudi menyebutnya sebagai "penargetan sengaja terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil."
Jalan Menuju Perang yang Lebih Luas
Serangan ini bukan sekadar balasan. Ini adalah babak baru. Sejak 3 September 2026, Houthi melancarkan ofensif besar-besaran di Yaman barat. Mereka merebut Kota Pelabuhan Mokha. Mereka mendorong ke selatan, menguasai Pulau Mayun di jantung Selat Bab al-Mandeb—gerbang vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
"Navigasi internasional melalui selat tetap bebas, aman, dan lancar," kata Houthi. Tapi ada satu pengecualian: kapal-kapal Saudi dilarang melintas, sesuai blokade maritim yang mereka umumkan pada 20 Juli.
Ini bukan lagi perang perbatasan. Ini perang yang menyentuh jalur energi dunia. Arab Saudi adalah eksportir minyak mentah terbesar di dunia. Dan kini, harga minyak menembus 100 dolar AS per barel.
Kecaman dari Mekkah hingga New York
Dunia bereaksi. Liga Muslim Dunia (MWL) mengutuk keras serangan Houthi yang menghantam masjid dan bangunan di Provinsi Jazan pada 12 September. Sekjen MWL, Sheikh Dr. Mohammed Al-Issa, menyebutnya "pelanggaran nilai-nilai agama serta norma dan hukum kemanusiaan internasional."
Sekretaris Jenderal GCC, Jasem Albudaiwi, menyebut serangan itu sebagai "eskalasi kriminal berbahaya yang sekali lagi menegaskan watak sesungguhnya dari kelompok Houthi." Ia menyatakan solidaritas penuh dengan Arab Saudi.
PBB menyerukan penahanan diri. "Kami mengecam serangan lintas batas Houthi terhadap sejumlah lokasi di wilayah selatan Arab Saudi. Serangan-serangan ini berdampak pada warga sipil dan infrastruktur energi," kata Stephane Dujarric.
Malam yang Belum Berakhir
Pukul 03.00 dini hari, Pertahanan Sipil Arab Saudi mengumumkan bahwa "bahaya telah berlalu." Peringatan dicabut. Tapi bagi warga Khamis Mushait, malam itu tidak akan pernah benar-benar berakhir. "Kami tidak bisa tidur," kata mereka. "Api menyala lama sekali."
Di Sanaa, Houthi bersumpah akan terus meningkatkan serangan. "Respons Yaman akan terus berlanjut dan meningkat selama mereka bertahan dalam agresi terhadap rakyat kami," kata Hazem Al-Assad dari biro politik Houthi.
Di Riyadh, koalisi pimpinan Saudi menyatakan akan mengambil "tindakan tegas" untuk melindungi kedaulatan kerajaan.
Dan di antara semua retorika itu, 13 warga sipil sedang dirawat di rumah sakit. Tujuh rumah mereka hancur. Dua kendaraan mereka tinggal serpihan. Mereka tidak memilih perang ini. Tapi mereka yang merasakannya.
Langit Khamis Mushait masih gelap. Dan pertanyaannya menggantung di udara malam: berapa banyak lagi malam yang akan seperti ini?
Ringkasan: Houthi melancarkan serangan besar-besaran dengan puluhan rudal balistik dan drone ke Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait, Arab Saudi, pada Senin (14/9/2026). Serangan ini merupakan balasan atas 300+ serangan udara Saudi dalam lima hari terakhir. 13 warga sipil terluka di Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Peringatan ancaman juga dikeluarkan untuk pertama kalinya di Mekah. Konflik Yaman kembali memanas sejak Juli 2026, dengan Houthi kini menguasai Selat Bab al-Mandeb yang strategis.

No comments:
Post a Comment