Prabowo Soal Keracunan MBG: "Sakit Perut Itu Biasa" hingga "Masih dalam Batas Ilmiah"

 

Prabowo Soal Keracunan MBG: "Sakit Perut Itu Biasa" hingga "Masih dalam Batas Ilmiah"



Jakarta – Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik atas pernyataannya mengenai kasus keracunan yang terus berulang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Respons kepala negara terhadap puluhan ribu korban keracunan dinilai beragam, mulai dari pernyataan yang dianggap meremehkan hingga pembelaan berbasis statistik.

"Sakit Perut Itu Biasa"

Dalam sebuah pernyataan yang belakangan kembali beredar dan memicu perdebatan, Prabowo menyebut keluhan sakit perut yang muncul setelah mengonsumsi makanan MBG sebagai hal yang umum terjadi .

"Dari sekian juta ada kekurangan, ada yang mereka bilang keracunan, ya namanya sakit perut biasa sebetulnya," kata Prabowo saat menghadiri peluncuran digitalisasi pembelajaran di SMP Negeri 4 Kota Bekasi .

Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan pengalaman sehari-hari. "Makan di warung sering. Saya makan di rumah saja sering salah makan, kadang-kadang kurang cuci tangan," ujarnya .

Meski demikian, Prabowo menegaskan pemerintah tetap bertanggung jawab. "Tapi kita tanggung jawab," katanya, seraya meminta pelaksanaan MBG diperketat agar persoalan serupa tidak kembali terjadi .

"Masih dalam Batas Ilmiah"

Pada kesempatan lain, Presiden Prabowo memberikan pembelaan berbasis statistik. Ia menyatakan bahwa angka kasus keracunan MBG masih dalam kategori "corridor of error" berdasarkan ilmu pengetahuan .

"Kalau 1,4 miliar dibagi 8.000, saya kira kalau dalam ilmu pengetahuan dalam sains ini masih dalam koridor katakanlah corridor of error," kata Presiden saat menghadiri Sidang Senat Terbuka di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Bandung .

Menurut Presiden, dari 1,4 miliar porsi makanan yang telah dibagikan, kasus keracunan yang tercatat sekitar 8.000, atau secara statistik hanya 0,0007 persen .

"Jadi, di mana ada usaha manusia yang 99,99 persen berhasil, dibilang gagal, tapi kita tidak mau ada satupun anak yang sakit, mungkin karena makanan kurang bagus, kurang bersih, dan sebagainya," ujar Presiden .

Prabowo juga menegaskan pemerintah tidak akan berhenti berupaya mencapai zero error. "Kita sudah perintahkan semua dapur harus punya alat-alat yang terbaik untuk membersihkan dan kita akan sempurnakan terus," katanya .

Puji MBG di Forum Internasional

Kritik terhadap respons Prabowo semakin menguat setelah ia memuji program MBG dalam pidatonya di forum Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada 3 September 2026 . Dalam pidato tersebut, Prabowo menyebut MBG sebagai bagian dari agenda pembangunan yang berorientasi pada kepentingan rakyat dan mengaitkannya dengan visi hilirisasi industri .

Yang membuat pernyataan ini menuai kritik adalah timing-nya. Pada saat yang sama, kasus keracunan massal justru sedang terjadi di sejumlah daerah, termasuk di SMAN 3 Nganjuk, Jawa Timur, yang menimpa puluhan siswa .

Pengamat komunikasi politik, Emrus Sihombing, menilai wajar Prabowo membanggakan MBG karena tujuan program tersebut positif. Namun, ia menyoroti implementasi dan pengawasan yang dinilai tidak sejalan dengan tujuan awal .

"Emrus menyebut dugaan keracunan terhadap puluhan ribu penerima MBG dan dugaan korupsi di jajaran puncak BGN sebagai indikator serius kegagalan pelaksanaan program," tulis laporan tersebut .

Desakan Evaluasi Total

Respons Prabowo yang dinilai meremehkan kasus keracunan mendapat kritik keras dari berbagai kalangan. Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, menilai Presiden terlalu bebal dalam menghadapi kritik .

"Beliau tetap dengan kekehnya, dengan angkuhnya sebagai Presiden yang begitu bebalnya tidak mau mendengarkan kritik masukan, sehingga program ini masih tetap berjalan," kata Fernando .

Ia mendorong DPR RI untuk meminta pertanggungjawaban Presiden Prabowo selaku pihak yang menjalankan program MBG serta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) .

KPAI juga menyatakan bahwa kasus keracunan yang menimpa 1.961 anak dalam kurun tiga hari pada awal September 2026 harus menjadi "alarm keras" bagi Presiden .

"Ini harus jadi alarm keras presiden, karena persoalan lama masih terus berulang, belum berubah," kata Wakil Ketua KPAI Jasra Putra .

Langkah Perbaikan yang Diklaim Pemerintah

Di tengah gempuran kritik, pemerintah mengklaim telah melakukan berbagai langkah perbaikan. Badan Gizi Nasional (BGN) telah menerbitkan protokol keamanan baru, termasuk kewajiban makanan dikonsumsi dalam waktu empat jam setelah dimasak, dengan label kedaluwarsa pada semua nampan makanan .

Sebanyak 137 kepala dapur telah dipecat sejak Agustus 2026 karena kelalaian keamanan pangan. BGN juga menutup sementara 1.999 dari 27.022 dapur karena tidak memiliki sertifikat higiene dan sanitasi .

Prabowo sendiri menegaskan bahwa setiap dapur harus dilengkapi dengan alat pencuci piring yang tepat, filter air, dan test kit sebelum makanan dikirim . Ia juga meminta semua guru untuk mengajarkan anak-anak mencuci tangan sebelum makan .


Kesimpulan: Respons Presiden Prabowo terhadap kasus keracunan MBG yang telah menimpa lebih dari 50 ribu orang menuai kritik tajam. Pernyataan "sakit perut itu biasa" dan pembelaan statistik "masih dalam batas ilmiah" dinilai meremehkan penderitaan korban dan keluarga mereka. Di tengah desakan publik untuk menghentikan atau merombak total program, pemerintah terus berupaya memperbaiki tata kelola MBG, meski hasilnya masih dipertanyakan.

No comments:

Post a Comment