Indonesia di Lingkaran Api, Harus Siap Setiap Saat!

Presiden Prabowo Tegaskan Penguatan Mitigasi Bencana Nasional



Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat sistem mitigasi bencana nasional secara menyeluruh. Penegasan ini disampaikan dalam rapat terbatas melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9), yang dihadiri sejumlah menteri Kabinet Merah Putih serta kepala badan terkait.

Indonesia di Lingkaran Api, Harus Siap Setiap Saat

Mengawali rapat, Presiden Prabowo menyoroti posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Menurutnya, kondisi ini membawa konsekuensi bagi pemerintah untuk selalu siap menghadapi berbagai potensi bencana.

"Ini adalah takdir kita sebagai negara yang berada di Lingkaran Api, The Ring of Fire. Jadi ini membawa kita untuk harus siap menghadapi keadaan seperti ini setiap saat," ujar Prabowo dalam sambutannya.

Rapat tersebut digelar untuk memantau perkembangan sekaligus mengevaluasi penanganan berbagai bencana yang terjadi belakangan ini, mulai dari gempa bumi di Flores, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi masalah di sejumlah wilayah.

Anggaran Mitigasi Bencana Harus Ditambah Signifikan

Salah satu poin penting yang ditekankan Presiden adalah peningkatan alokasi anggaran untuk mitigasi bencana. Prabowo menilai kondisi kebencanaan yang terjadi menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah yang dipimpinnya.

"Alokasi anggaran untuk mitigasi bencana harus kita tambah secara signifikan," tegas Prabowo.

Ia meminta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi berkoordinasi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy untuk menyusun perencanaan penguatan sarana penanggulangan bencana.

Prinsip "Lebih Baik Berlebih Daripada Kurang"

Presiden Prabowo menekankan pentingnya prinsip kesiapsiagaan sejak sebelum bencana terjadi, bukan sekadar bereaksi saat kondisi sudah memburuk.

"Saya minta pemikiran kita dalam perencanaan kita gunakan prinsip: lebih baik lebih daripada kurang, jadi kita siap sebelum kejadian," ujarnya.

Secara spesifik, Prabowo meminta penambahan berbagai peralatan pendukung, antara lain:

  • Helikopter untuk water bombing dan operasi udara

  • Pompa air dan kendaraan pemadam kebakaran

  • Ekskavator kecil yang dapat ditempatkan di tingkat desa rawan karhutla

  • Drone berkapasitas besar yang mampu membawa dan menjatuhkan air

  • Pesawat untuk operasi modifikasi cuaca

Teknologi Modifikasi Cuaca dan Pemanfaatan Alutsista

Presiden juga mendorong pemanfaatan teknologi canggih dalam penanganan bencana. Ia menginstruksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji bahan yang paling efisien guna mempercepat operasi modifikasi cuaca.

Selain itu, Prabowo menyampaikan rencana pemanfaatan kapal induk asal Italia yang akan dimodifikasi menjadi kapal induk helikopter dan drone. Kapal tersebut diperkirakan mampu menampung hingga 10 helikopter kelas menengah seperti Black Hawk atau MI-17 yang masing-masing dapat mengangkut 4-5 ton air untuk membantu pemadaman kebakaran dari udara.

Evaluasi Penanganan Bencana Flores dan Karhutla

Meski mengapresiasi respons cepat penanganan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, Presiden memberikan catatan evaluasi terkait keterlambatan penanganan kebakaran hutan di beberapa titik.

Terkait gempa Flores, pemerintah telah menyalurkan dana Rp200 miliar kepada Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur untuk mendukung pemulihan. Kebutuhan dasar masyarakat seperti listrik, komunikasi, BBM, air bersih, transportasi, kesehatan, dan pendidikan secara umum telah kembali berfungsi.

Sementara untuk penanganan karhutla, pemerintah mengerahkan 19 pesawat untuk operasi modifikasi cuaca dan patroli, serta 36 pesawat untuk water bombing. Sejak Januari hingga awal September 2026, sebanyak 138 orang telah ditetapkan sebagai tersangka terkait karhutla, terdiri dari 119 kasus kesengajaan dan 19 kelalaian, dengan luas area terbakar mencapai 8.637 hektare.

Presiden memberikan perhatian khusus terhadap dugaan pembakaran hutan secara sengaja untuk membuka lahan perkebunan dalam waktu singkat. "Saya tertarik juga itu yang habis kebakaran langsung jadi lahan perkebunan dalam waktu yang sangat singkat. Jadi ini benar-benar kesengajaan dan apakah ini korporasi. Tolong diselidiki terus," tegas Presiden Prabowo.

Kesiapsiagaan Jangka Panjang

Prabowo menekankan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dengan banyak gugusan pulau kecil juga membutuhkan penguatan akses logistik. Ia meminta penambahan kapal patroli jenis FPB serta kapal pendarat mekanis (LCM) dan kapal pendarat kendaraan dan personel (LCVP) untuk memperlancar pengiriman bantuan ke pulau-pulau kecil saat terjadi bencana.

"Jadi kita persiapan mengatasi mitigasi, jangan menunggu kejadian. Jauh sebelumnya harus kita siapkan," pungkas Presiden Prabowo.

No comments:

Post a Comment