Dramatika di Laut Jawa: 129 Jiwa Masih Terapung Antara Harapan dan Ombak
Banjarmasin – Pukul 10.00 WITA, Selasa (15/9/2026). Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Sebuah kapal patroli merapat perlahan. Di atasnya, 22 orang duduk lunglai. Wajah-wajah mereka pucat. Beberapa menggigil meski matahari sudah tinggi. Mereka adalah sebagian dari 243 jiwa yang menaiki KM Virgo Transport 8—kapal yang kini terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa. Sementara mereka yang selamat mencium tanah, 129 nama lain masih tercatat dalam daftar pencarian. Belum ditemukan.
Di posko SAR, papan whiteboard besar menampilkan angka-angka yang terus diperbarui. 108 selamat. 6 meninggal. 129 hilang. Tiga kategori. Tiga nasib. Satu tragedi.
Kapal Tua, Nasib Malang
KM Virgo Transport 8 bukan kapal muda. Ia dibangun tahun 1987 di galangan kapal Shin Kurushima Onishi, Imabari, Jepang. Panjang 119 meter, lebar 21 meter, bobot 4.277 gross tonnage. Usianya 39 tahun saat air Laut Jawa menelannya. Kapal ini dulunya bernama Ferry Kurushima, beroperasi di perairan Jepang sebelum dibawa ke Indonesia dan mulai melayani rute Surabaya–Banjarmasin pada Juli 2026.
Minggu dini hari, 13 September 2026. Kapal berangkat dari Tanjung Perak, Surabaya, Sabtu pukul 10.00 WIB. Di atasnya: 243 jiwa. 89 kendaraan. Barang bawaan. Mimpi. Harapan. Semua mengapung di atas baja tua yang berlayar menuju Banjarmasin.
Pukul 01.00 WITA, laporan pertama datang. Ada anomali gelombang. Operator mengklaim cuaca buruk. Gelombang 1,5 sampai 2,5 meter.
Pukul 02.00 WITA, kontak terputus.
Sinyal Terakhir
Pakar Sistem Perkapalan ITS, Dhimas Widhi Handani, memaparkan rekaman Automatic Identification System (AIS). Kapal bergerak stabil di kecepatan 13–14 knots. Sinyal terakhir terdeteksi pukul 22.33 WIB, kecepatan 12,9 knots. Lalu hilang. Sebelum data terhenti total, kapal sempat terdeteksi melakukan manuver di luar jalur yang seharusnya.
Pukul 15.00 WIB, Minggu. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengumumkan: kapal ditemukan dalam kondisi terbalik, tetapi belum tenggelam. Helikopter Basarnas melihat lambung kapal mengapung, menganga ke langit. Di bawahnya, laut dalam. Di dalamnya, mungkin, masih ada jiwa-jiwa yang bertahan.
Yang Terapung, Yang Tenggelam
Mereka yang selamat bercerita: ombak menghantam, air masuk, kapal miring. Lalu gelap. Lalu dingin. Lalu apa saja yang bisa dipegang.
Beberapa berhasil naik ke sekoci. Beberapa terapung dengan pelampung. Beberapa ditemukan mengapung di laut, entah hidup entah tidak. Kapal-kapal yang melintas—TB Mauhau IX, TB TCP, MV Haida—mulai menarik mereka satu per satu. 103 orang dievakuasi hari itu. Satu meninggal. Enam kemudian. Lalu 114. Lalu 108 selamat.
Tapi 129 masih di sana. Di bawah ombak. Di dalam kapal yang terbalik. Atau terapung entah di mana. Tim SAR membagi operasi menjadi enam sektor. Luas 2.600 nautical mile. Helikopter Basarnas menyisir udara. KRI Nala, KN SAR Laksamana, dan puluhan kapal lain membelah laut.
Warga Garut, Warga Blitar, Warga Malang
Dari 23 warga Garut yang menjadi korban, 1 tewas. 11 selamat. 11 lainnya belum ditemukan. Mereka berasal dari satu desa: Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan. Bupati Garut Syakur Amin menerima data itu dengan wajah berat. "Belum ditemukan," katanya.
Di Blitar, Yolanda menunggu. Adiknya, Reyner Fausta Yosilianto, 22 tahun, baru tiga kali ikut kakaknya mengirim makanan ringan ke luar Jawa. Reyner kernet. Susanto, kakaknya, sopir. Reyner meninggalkan istri dan anak berusia 8 bulan. Jenazah Reyner sudah diidentifikasi lewat sidik jari. Susanto masih hilang.
Malam yang Belum Berakhir
Di RS Bhayangkara Banjarmasin, tim DVI masih menunggu lima jenazah lainnya. Kabid Dokkes Polda Kalsel, Kombes dr Much Sofwan, mengatakan satu kantong yang mereka terima ternyata berisi pelampung, bukan jenazah.
Di laut, kapal-kapal masih menyisir. Ombak masih tinggi. Malam masih panjang.
Dan 129 nama masih tertulis di papan putih. Menunggu jawaban. Apakah mereka masih hidup. Apakah mereka masih di dalam kapal. Apakah mereka akan ditemukan esok. Atau lusa. Atau tidak sama sekali.
Di Banjarmasin, 22 orang yang selamat duduk di posko. Mereka mencium tanah. Mereka bersyukur. Tapi di mata mereka, ada bayangan. Bayangan kapal yang terbalik. Bayangan teman-teman yang tidak ikut naik ke sekoci. Bayangan 129 nama yang belum pulang.
Laut Jawa belum bicara. Dan mereka yang menunggu di darat hanya bisa berdoa, sambil menatap cakrawala, berharap ada kapal yang membawa kabar baik.
Update terbaru: Hingga Selasa (15/9) siang, 114 penumpang telah dievakuasi (108 selamat, 6 meninggal). Pencarian terhadap 129 orang masih berlangsung di enam sektor perairan Laut Jawa.

No comments:
Post a Comment