Drama di Bantul: Ketika Candaan Tentang "Ingatan Hilang 70 Persen" Menghancurkan Karier Seorang Pegawai SPPG

 

Drama di Bantul: Ketika Candaan Tentang "Ingatan Hilang 70 Persen" Menghancurkan Karier Seorang Pegawai SPPG



Bantul – Pukul 20.00 WIB, Minggu (20/9/2026). Sebuah ponsel bergetar di atas meja. Di layarnya, notifikasi Instagram tidak berhenti masuk. Gerardus Majella Hananto Hega Permanaditya menatap layar itu dengan wajah pucat. Video berdurasi 29 detik yang ia unggah dua hari sebelumnya kini telah ditonton ratusan ribu kali. Dan di antara jutaan komentar, satu nama muncul berulang kali: Gibran Rakabuming Raka.

Wakil Presiden Republik Indonesia. Mengunggah ulang videonya. Dengan satu kalimat tajam: "Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan."

Gerardus menutup ponselnya. Ia tahu, hidupnya telah berubah. Selamanya.

Detik-detik yang Terekam

Video itu sederhana. Gerardus, pengawas keuangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banjarharjo II, Muntuk, Dlingo, Bantul, duduk di depan meja makan. Di depannya, sepotong chicken katsu—sisa masakan hari sebelumnya. Ia menyantapnya, lalu berakting seolah kebingungan.

"Gua makan chicken katsu masakan kemarin apakah masih enak? Oh tidak. Ingatanku hilang tujuh puluh persen," ujarnya sambil tertawa.

Bagi Gerardus, itu mungkin hanya candaan. Konten receh. Tapi bagi publik, kalimat itu memiliki resonansi yang mengerikan. Febiona Purba, siswi SMK Bersama Berastagi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, adalah salah satu korban keracunan MBG yang dilaporkan mengalami gangguan ingatan setelah menyantap makanan dari program yang sama. Gadis itu sempat dirawat intensif di RSCM. Ia kehilangan sebagian ingatannya. Dan di tengah penderitaan itu, seorang pegawai SPPG—orang yang seharusnya memastikan makanan anak-anak aman—justru menertawakan kondisi itu.

"Saya Tidak Menyinggung Siapa Pun"

Setelah video itu viral, Gerardus membuat video klarifikasi. Wajahnya lelah. Suaranya bergetar. "Saya cuma have fun saja makan katsu masakan kemarin. Saya tidak ada menyinggung salah satu korban mana pun. Saya hanya bilang seperti itu."

Ia mengklaim tidak pernah menyebut program MBG. Tidak pernah menyebut nama Febiona. "Itu dilihat dari kacamata universal. 70 persen itu bisa menyinggung apa pun. Saya tidak bilang 70 persen kehilangan ingatan karena salah satu program pemerintah."

Tapi klarifikasi itu tidak menyelamatkannya. Warganet sudah menghubungkan titik-titik. Cocoklogi, kata Gerardus. Tapi publik tidak peduli. Bagi mereka, ini bukan tentang logika. Ini tentang empati.

"Sekali lagi saya minta maaf atas segalanya. Itu tidak ada niat saya ingin viral ataupun menyinggung salah satu program atau menyinggung korban," ujarnya.

Gibran Turun Tangan

Di Jakarta, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melihat video itu. Ia tidak tinggal diam. Melalui akun Instagram resminya, Gibran mengunggah ulang video Gerardus, disandingkan dengan rekaman dirinya saat mengunjungi korban keracunan MBG di Karo.

"Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan," tulis Gibran.

Gibran juga memberikan kabar baik: Febiona Purba dan Agnesia Paruliana Silitonga, dua korban yang sempat mengalami hilang ingatan, telah kembali ke rumah masing-masing di Kabupaten Karo dan akan segera kembali bersekolah. Mereka telah melewati mimpi buruk. Tapi Gerardus, dalam ketidaktahuannya, telah menambahkan luka baru pada luka yang sudah menganga.

Pemecatan

Pukul 10.00 WIB, Senin (21/9/2026). Kantor Regional Badan Gizi Nasional (BGN) DIY menggelar rapat tertutup. Wirandita Gagat Widyatmoko, Koordinator Regional BGN DIY, memimpin rapat itu. Keputusannya bulat.

"Kami menyayangkan adanya pernyataan tersebut. Setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, yang bersangkutan telah diberhentikan," kata Gagat.

Pemecatan itu bukan sekadar sanksi administratif. Ini adalah pesan. Bahwa di dalam program MBG, etika bukan opsional. "Bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi," tegas Gagat.

Ia juga mengingatkan seluruh jajaran SPPG: "Jangan sampai satu perilaku menghapus kerja baik banyak orang. Kita hadir untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk merendahkan pihak lain."

Malam yang Sunyi

Di rumahnya di Bantul, Gerardus menatap layar ponselnya sekali lagi. Video klarifikasinya sudah dihapus. Akun Instagram-nya mungkin akan segera dinonaktifkan. Besok, ia tidak akan pergi ke SPPG. Tidak ada lagi chicken katsu. Tidak ada lagi candaan.

Di Karo, Febiona Purba mungkin sedang belajar untuk kembali bersekolah. Ia tidak tahu siapa Gerardus. Ia tidak pernah menonton video itu. Tapi ia adalah alasan mengapa video itu menghancurkan segalanya.

Di Jakarta, Gibran melanjutkan agendanya. Tapi unggahannya tetap ada di sana. Sebuah pengingat bahwa ruang publik harus aman. Terutama bagi anak-anak yang sudah menjadi korban.

Malam ini, satu karier berakhir. Bukan karena kesalahan teknis. Bukan karena kelalaian. Tapi karena candaan yang salah tempat. Dan di Indonesia, di mana makanan adalah martabat dan anak-anak adalah masa depan, candaan seperti itu tidak pernah bisa dimaafkan.


Ringkasan: Pegawai SPPG Banjarharjo II Bantul, Gerardus Majella Hananto Hega Permanaditya, dipecat setelah video candaannya soal "ingatan hilang 70 persen" viral dan dinilai mengejek korban keracunan MBG di Karo. Video itu diunggah ulang oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang menyayangkan aksi perundungan terhadap korban. BGN DIY menyatakan pemecatan sebagai upaya menjaga standar etika, empati, dan profesionalisme jajaran SPPG. Gerardus telah meminta maaf dan mengklaim tidak berniat menyinggung siapa pun.

No comments:

Post a Comment