Drama di Tengah Kabut Asap: Anggota DPRD Mempawah

 

Drama di Tengah Kabut Asap: Anggota DPRD Mempawah Diduga Bakar Lahan untuk Kebun Sawit, Polisi Turun Tangan



Mempawah – Pukul 16.00 WIB, Minggu (20/9/2026). Di sebuah lahan di Mempawah Hilir, Kalimantan Barat, asap mengepul dari tumpukan ranting dan dahan yang terbakar. Seorang pria berdiri di depan kamera ponselnya. Wajahnya tenang. Suaranya santai. “Kawan-kawan ini bekas kebakaran kemarin, kita bakar lagi sekalian, langsung buka lahan. Sawit yang kena kebakaran di belakang, kita tambah,” ujarnya sambil tersenyum. Video itu diunggah ke akun TikTok pribadinya. Dalam hitungan jam, rekaman itu menyebar ke seluruh penjuru negeri.

Pria itu adalah Choirussaib, anggota DPRD Kabupaten Mempawah dari Partai Hanura, daerah pemilihan Mempawah Hilir-Mempawah Timur . Di tangannya, lahan yang terbakar bukan sekadar tanah. Ia adalah simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang melanda Kalimantan Barat. Kabut asap pekat. Warga kesulitan bernapas. Sekolah diliburkan. Dan di tengah semua itu, seorang wakil rakyat justru dengan bangga menunjukkan dirinya membakar lahan untuk menanam sawit.

“Kita Bakar Lagi Sekalian”

Video berdurasi pendek itu diunggah Jumat (18/9/2026) melalui akun TikTok @BangChoy . Dalam rekaman, Choirussaib terlihat berada di sebuah lahan bekas kebakaran. Sejumlah pohon sawit masih berdiri di sekitar lokasi. Ia menyebut bahwa lahan tersebut sebelumnya sudah terbakar. Namun, ia dan teman-temannya membakar lagi sisa-sisa kayu yang belum tersentuh api.

“Kita tanam sawit. Kita tanam jagung juga nanti,” katanya dalam video yang sudah ditonton lebih dari 30 ribu kali .

Kata-kata itu sederhana. Tapi resonansinya mengerikan. Di tengah kabut asap yang membuat warga Mempawah menghirup udara beracun selama berbulan-bulan, seorang anggota dewan justru memamerkan aksi pembakaran lahan. Bukan sebagai kejahatan. Tapi sebagai pencapaian.

Polisi Bergerak Cepat

Pukul 17.00 WIB, Minggu (20/9/2026). AKBP Ade Chandra Capa Yanto, Kapolres Mempawah, menerima laporan tentang video viral tersebut. Ia tidak menunggu. Personel Inafis Satreskrim dan Polsek Mempawah Hilir langsung diterjunkan ke lokasi .

“Informasi yang kami terima dari video yang beredar itu langsung kami respons. Personel Inafis sudah kami turunkan untuk mengecek lokasi dan melakukan olah TKP,” ujar Ade Chandra .

Di lokasi, penyidik mengumpulkan bukti. Dokumentasi. Saksi. Kondisi tanah. Semua dicatat. Polisi tidak ingin mengambil kesimpulan dari potongan video saja. “Kami ingin memastikan kondisi sebenarnya di lokasi. Karena itu, pemeriksaan tidak hanya berdasarkan apa yang terlihat dalam video, tetapi juga harus didukung dengan fakta yang ditemukan di lapangan,” tegasnya .

Yang lebih mengejutkan, Choirussaib diantar langsung oleh Ketua DPRD Mempawah, Safruddin Asra, ke Polres Mempawah untuk menjalani pemeriksaan . Sebuah gestur yang bisa dibaca banyak hal: kooperatif, atau justru pengakuan bahwa ini bukan sekadar masalah pribadi.

“Problem Mental dan Sesat Pikir”

Di Pontianak, Muhammad Darwin, Ketua Gerakan Mental Sehat Bahagia (GemasBah), membaca berita itu dengan kepala berat. “Tindakan anggota dewan yang terduga melakukan tindak yang berpotensi terjadinya karhutla semakin meluas. Kondisi ini menunjukkan ada indikasi yang bersangkutan mengalami krisis secara rasional, moral, dan hukum,” katanya .

Darwin menyebut ada tiga dimensi persoalan yang ditabrak sekaligus. Pertama, kecerdasan sosial. Membakar lahan secara demonstratif dengan publikasi media sosial, di tengah masyarakat Kalbar yang sedang resah menghadapi krisis asap dan air bersih, adalah bentuk ketidakpedulian sosial . Kedua, kecerdasan emosional. Jika motifnya adalah kepentingan ekonomi pragmatis individual, ini menunjukkan ketidakmampuan berpikir jangka panjang. Ketiga, kecerdasan intelektual. Seorang wakil rakyat yang seharusnya menjadi pilar pembela ruang hidup warga justru memberi contoh yang bertolak belakang .

“Ini adalah bentuk bunuh diri politik paling vulgar, karena dilakukan secara amat demonstratif di hadapan publik,” tegas Darwin .

“Di Saat Warga Hirup Udara Beracun”

Di Mempawah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mempawah tidak tinggal diam. Ketua Umum HMI Mempawah, Abdul Rohman, menyatakan kecaman keras. “Di saat masyarakat harus menghirup udara tidak sehat akibat asap tebal, serta jajaran TNI, Polri, relawan, dan petugas gabungan bersusah payah siang dan malam menanggulangi karhutla di lapangan, justru ada oknum anggota DPRD yang diduga malah sengaja melakukan pembakaran lahan,” katanya .

HMI mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas. Mereka mengingatkan bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar memiliki konsekuensi hukum berat. Pasal 69 ayat (1) huruf h UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup melarang setiap orang membuka lahan dengan cara membakar. Sanksinya: penjara minimal 3 tahun, maksimal 10 tahun, dan denda hingga Rp10 miliar .

“Hukum harus ditegakkan secara adil, tidak boleh ada tebang pilih hanya karena pelaku merupakan pejabat atau anggota dewan,” pungkas Abdul .

“Saya Hanya Iseng Bikin Video”

Pukul 18.00 WIB. Choirussaib akhirnya angkat bicara. Dalam klarifikasinya, ia menyampaikan permohonan maaf. Tapi ada nuansa yang membuat klarifikasinya justru semakin membingungkan.

“Saya mohon maaf atas terjadinya kegaduhan yang terjadi di sosial media kemarin,” ujarnya .

Ia menjelaskan bahwa lahan tersebut sudah terbakar sejak 1 September 2026. Setelah kebakaran, masih ada sisa kayu yang belum terbakar. Kayu-kayu itu dikumpulkan dan dibakar pada 17 September 2026. “Yang terjadi di video itu memang benar ada di lahan saya. Lahan itu sebenarnya sejak tanggal 1 September kemarin sudah terbakar semuanya,” jelasnya .

Tapi bagian paling kontroversial adalah pengakuannya tentang siapa yang membakar. “Yang membakar itu teman saya. Saya hanya iseng bikin video. Itulah kesalahan saya, mungkin sehingga video itu jadi viral,” ungkapnya .

Iseng. Satu kata yang menggambarkan betapa jauhnya seorang wakil rakyat dari kesadaran akan posisinya. Di tengah krisis asap yang membuat bayi-bayi kesulitan bernapas, di tengah petugas yang berjibaku memadamkan api, seorang anggota DPRD mengaku iseng membuat video saat lahannya dibakar.

Hanura Minta Maaf

Di Pontianak, Dian Eka Muchairi, Ketua DPD Partai Hanura Kalimantan Barat, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. “Partai juga mengucapkan permohonan maaf kepada masyarakat Kalimantan Barat, khususnya masyarakat Kabupaten Mempawah, atas kejadian video yang viral yang disebarkan dan dibuat oleh oknum anggota dewan berinisial C,” katanya .

Dian menyatakan bahwa DPD Hanura Kalbar telah memberikan teguran kepada Choirussaib. “Kami selaku pengurus Partai Hanura Kalbar juga sudah memberi teguran. Mudah-mudahan saudara C bisa kooperatif sehingga proses pemeriksaan ini bisa berjalan sesuai dengan proses yang ada di kepolisian,” ujarnya .

Namun, hingga saat itu, partai belum memberikan pendampingan hukum kepada Choirussaib. Dian menyebut persoalan tersebut masih ditempatkan sebagai ranah pribadi .

Malam yang Panjang

Pukul 20.00 WIB. Di lokasi lahan di Mempawah Hilir, pita polisi masih terpasang. Sisa-sisa pembakaran masih terlihat. Di suatu tempat, Choirussaib mungkin sedang menatap ponselnya. Video yang ia unggah telah dihapus. Tapi rekamannya telah beredar ke mana-mana. Tidak bisa ditarik kembali.

Di rumah-rumah warga Mempawah, kabut asap masih menyelimuti. Anak-anak masih batuk. Sekolah masih diliburkan. Dan seorang wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan hak mereka untuk menghirup udara bersih, justru membakar lahan untuk menanam sawit.

Polisi masih menyelidiki. Belum ada tersangka. Belum ada kesimpulan. Tapi satu hal yang jelas: di Mempawah, di Kalimantan Barat, di Indonesia, membakar lahan bukanlah tindakan iseng. Ia adalah kejahatan. Dan siapa pun yang melakukannya—bahkan seorang anggota dewan—harus mempertanggungjawabkannya.

Malam ini, asap masih mengepul. Dan di tengah asap itu, sebuah pertanyaan menggantung: apakah hukum akan ditegakkan tanpa tebang pilih?


Ringkasan: Anggota DPRD Mempawah dari Partai Hanura, Choirussaib, viral setelah video dirinya membakar lahan untuk persiapan menanam 200 bibit kelapa sawit tersebar di media sosial. Video diunggah Jumat (18/9) melalui akun TikTok @BangChoy. Polres Mempawah menurunkan Inafis untuk olah TKP dan memeriksa Choirussaib pada Minggu (20/9). HMI mengecam keras aksi tersebut dan mendesak penegakan hukum tanpa tebang pilih. Choirussaib mengaku iseng membuat video dan menyebut yang membakar adalah temannya. DPD Hanura Kalbar menyampaikan permohonan maaf dan memberikan teguran. Ancaman pidana: Pasal 69 ayat (1) huruf h jo Pasal 108 UU No. 32 Tahun 2009 tentang PPLH—penjara 3-10 tahun dan denda Rp3-10 miliar.

No comments:

Post a Comment